BAB I
A. PENDAHULUAN
Dalam makalah ini kami membahas
mengenai motivasi, pebelajaran dan pengajaran. Duncan, seorang ahli
administrasi dalam bukunya Organizational Behavior, mengungkapkan bahwa dalam konsep
manajemen, motivasi berarti setiap usaha yang didasari untuk mempengaruhi perilaku seseorang agar
meningkatkan kemampuanya secara maksimal untuk mencapai tujuan organisasi. John
P. Campbell dan kawan-kawan menambahkan rincian dalam definisi tersebut dengan
mengemukakan bahwa motivasi mencangkup didalamnya arah atau tujuan tingkah
laku, kekuatan respons dan kegigihan tingkah laku. Disamping itu istilah itupun
mencangkup sejumlah konsep seperti, dorongan (drive), kebutuhan (need), rangsangan (incentive), ganjaran (reward), penguatan (reinforcement), ketetapan tujuan (goalsetting), harapan (expectancy), dan sebagainya.
Sedangkan menurut UU No. 20 tahun
2003 tentang sidiknas, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan
pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran tidak
sama dengan mengajar, karena dalam pembelajaran titik beratnya ialah pada semua
kejadian yang bisa berpengaruh secara langsung pada individu untuk belajar.
Disisi lain pembelajaran tidak harus disampaikan oleh orang, tetapi dapa
disampaikan melalui bantuan bahan cetak, gambar, televisi, computer serta
sumber-sumber lainya.
Pengajaran dapat disebut dengan
mengajar, atau dapat dikatakan keduanya adalah sama, karena pada hakikatnya
pengajaran itu berasal dari kata ajar, yang mendaptat imbuhan awalan “peng” dan
akhiran “an”, sehingga menjadi pengajaran.Pengajaran adalah suatu system,
artinya suatu keseluruhan yang terdiri atas komponen-komponen yang
berinterelasi dan berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, dan dengan
keseluruhan itu sendiri untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan
sebelumnya.
B.
PANDANGAN PARA PAKAR
Duncan, seorang ahli administrasi dalam bukunya Organizational
Behavior,
mengungkapkan bahwa dalam konsep manajemen, motivasi berarti setiap usaha yang
didasari untuk mempengaruhi perilaku
seseorang agar meningkatkan kemampuanya secara maksimal untuk mencapai tujuan
organisasi.
Menurut Vroom, motivasi mengacu
kepada suatu proses mempengaruhi pilihan-pilihan individu terhadab
bermacam-macam bentuk kegiatan yang di kehendaki.
Kemudian John P. Campbell dan
kawan-kawan menambahkan rincian dalam definisi tersebut dengan mengemukakan
bahwa motivasi mencangkup didalamnya arah atau tujuan tingkah laku, kekuatan
respons dan kegigihan tingkah laku. Disamping itu istilah itupun mencangkup
sejumlah konsep seperti, dorongan (drive), kebutuhan (need), rangsangan (incentive), ganjaran (reward), penguatan (reinforcement), ketetapan tujuan (goalsetting), harapan (expectancy), dan sebagainya.
Sejalan dengan apa yang telah
diuraikan diatas, Hoy dan Miskel dalam buku Education
Administration,
(1982:137) mengemukakan bahwa motivasi dapat didefinisikan sebagai
kekuatan-kekuatan yang kompleks, dorongan-dorongan, kebutuhan-kebutuhan, pertanyaan-pertanyaan ketegangan (tension
states), atau mekanisme-mekanisme lainnya yang memulai dan menjaga
kegiatan-kegiatan yang diinginkan kearah pencapaian tujuan-tuuan personal.
Menurut kebanyakan definisi,
motivasi mengandung tiga komponen pokok, yaitu, menggerakan, mengarahkan dan
menopang tingkah laku manusia.
a.
Menggerakkan, berarti menimbulkan kekuatan
pada individu, memimpin sesorang untuk bertindak dengan cara tertentu.
b.
Motivasi juga Mengarahkan atau menyalurkan tingkah laku,
dengan demikian ia menyediakan suatu orientasi tujuan. Tingkah laku individu
diarahkan terhadap sesuatu.
c.
Untuk menjaga dan Menopangtingkah laku, lingkungan harus
menguatkan (reinforce) intensitas dan arah dorongan-dorongan dan
kekuatan-kekuatan individu. [1]
Mondey at al (1980), mengartikan
motivasi sebagai proses mempengaruhi dan merengsang seseorang dengan
melaksanakan suatu tindakan untuk mencapai suatu tujuan.[2]
Menurut kimble (1961:6), belajar
adalah perubahan yang relative permanen didalam behavioral
potentionality (potensi behavioral) sebagai akibat dari reinforced
practice (praktek
yang diperkuat).
Mayer (1982:1040) menyebutkan bahwa
belajar adalah menyangkut adanya perubahan perilaku yang relative permanen pada
pengetahuan atau perilaku seseorang karena pengalaman.
Menurut Bell- Gredler belajar
adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam
kemampuan (competencies), ketrampilan (skill), dan sikap (attitude) yang diperoleh secara bertahap
dan berkelanjutan.
Menurut Gegne belajar merupakan
sebuah system yang di dalamnya terdapat berbagai unsure yang saling terkait,
sehingga menghasilkan perubahan perilaku.
Jhon Deway (1916) menekankan
bahwa karena belajar menyangkut apa yang harus dikerjakan untuk dirinya
sendiri, maka inisiatif harus datang dari peserta didik itu sendiri.
Alvin C. Eurich (1962) dari Ford
Foundation telah menyimpulkan prinsip-prinsip belajar sebagai berikut :
a.
Hal apapun yang dipelajari peserta didik, maka harus mempelajarinya
sendiri. Tidak seorang peu dapat melakukan kegiatan belajar untuknya.
b.
Setiap peserta didik belajar menurut tempo (kecepatanya) sendiri, dan
untuk setiap umur terdapat variasi dalam kecepatan belajar.
c.
Seorang peserta didik belajar lebih banyak bilamana setiap langkah
segera diberikan penguat (reinforcement)
d.
Penguatan secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara
keseluruhan lebih berarti.
e.
Apabila diberikan tanggung jawab mempelajari sendiri, peserta didik
akan lebih termotivasi untuk belajar dan mengingat secara lebih baik.
Gegne selanjutnya mendefinisikan
pembelajaran sebagai seperangkat kegiatan eksternal yang dirancang untuk
mendukung terjadinya beberapa proses belajar, yang sifatnya internal. [3]
Belajar pda hakikatnya adalah
proses interaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar individu. Belajar
dapat di padang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat
melalui berbagai pengalaman. Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati,
dan memahami sesuatu. (Sudjana, 1989: 28)[4]
Sedangkan menurut UU No. 20 tahun
2003 tentang sidiknas, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran
tidak sama dengan mengajar, karena dalam pembelajaran titik beratnya ialah pada
semua kejadian yang bisa berpengaruh secara langsung pada individu untuk
belajar. Disisi lain pembelajaran tidak harus disampaikan oleh orang, tetapi
dapa disampaikan melalui bantuan bahan cetak, gambar, televise, computer serta
sumber-sumber lainya. [5]
Cronbach mengemukakan definisi
tentang belajar yaitu:Learning is shown by a change in
behavior as a result of experience, Harold Spears memberikan batasan yaitu
: Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to
listen, to follow direction, Geoch mengatakan bahwa : Learning is a change
in performance as a result of practice.
Dari definisi diatas, maka dapat
diterangkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau
penampilan, dengan serangkaian kegiatan, misalnya dengan membaca, mengamati,
mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik,
kalau si subjek belajar itu mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersivat
verbalistik. [6]
Selanjutnya dalam perspektif
keagamaan, (dalam hal ini Islam), belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang
beriman agar memperoleh ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan derajat
kehidupan mereka. Hal ini dinyatakan dalam surat Mujadalah ayat 11 yang artinya
: “Niscaya
Allah akan meninggikan beberapa kepada orang-orang yang beriman dan berilmu”.
Skinner, seperti yang dikutip
Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psicologi : The Teaching-Leaching
Proses. Berpendapat bahwa belajar adalah
suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara
progresif. Pendapat ini diungkapkan dalam pernyataan ringkasnya, bahwa belajar
adalah : “...a process of progressive behavior adaptation”.[7]
Menurut Prof. Dr. Oemar Hamalik,
dalam bukunya Proses Belajar Mengajar, mengatakanbahwa ia membahas
mengenai pengertian mengajar atau pengajaran itu bersumber dari 4 pendapat yang
dipandang sebagai pendapat yang lebih menonjol.
a.
Mengajar ialah menyampaikan penngetahuan kepada siswa didik atau murid
disekolah. Criteria ini sejalan dengan pendapat dari teori pendidikan yang
bersikap pada mata pelajaran yang disebut formal dan tradisional.
b.
Mengajar adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui
lembaga pendidikan sekolah. Perumusan
ini bersifat lebih umum jika dibandingkan dengan perumusan yang pertama, namun
antara keduanya terdapat pikiran yang seirama.
c.
Mengajar adalah usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan
kondisi belajar bagi siswa. Perumusan ini dianggap lebih maju dari pada
perumusan terdahulu, sebab perumusan ini menitikberatkan kepada unsure siswa,
lingkungan dan proses belajar. [8]
Menurut John W. Santrock,motivasi
adalah proses yang member semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya,
perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energy, terarah dan tahan
lama.
A.
MOTIVASI
Motivasi dipandang dari arti
katanya, motivasi (motivation) berarti hal yang menimbulkan dorongan atau
keadaan yang menimbulkan dorongan. Motivasi dapat pula dikatakan sebagai energy
unttuk membangkitkan dorongan dalam diri (drive arousal). [9] Ada tiga komponen utama dalam motivasi,
yaitu :
a)
Kebutuhan
Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa
yang ia miliki dan yang ia harapkan. Maslow membagi kebutuhan menjadi 5
tingkat, yaitu : kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan perasaan aman, kebutuhan
sosial, kebutuhan akan penghargaan diri, dan kebutuhan untuk aktualisasi diri. [10]
b)
Dorongan
Dorongan merupakan kekuatan mental untuk melakukan kegiatan dalam
rangka memenuhi harapan. Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi
pada pemenuhan harapan atau pencapaian tujuan. Dorongan yang berorientasi pada
pencapaian tujuan tersebut merupakan inti dari motivasi.
c)
Tujuan
Tujuan merupakan pemberi arah pada perilaku, secara psikologis, tujuan
merupakan titik akhir “sementara” pencapaian kebutuhan. Jika tujuan tercapai
maka kebutuhan terpenuhi untuk “sementara”. Jika kebutuhan terpenuhi, maka
orang menjadi puas dan dorongan mental untuk berbuat “terhenti sementara”.[11]
a. Perspektif tentang Motivasi
Perspektif psikologis menjelaskan motivasi dengan cara yang berbeda,
berdasarkan perspektif yang berbeda pula. Perspektif motivasi ada 4, yaitu:
behavioral, humanistic, kognitif dan sosial.
a)
Perspektif behavioral, perspektif behavioral menekankan imbalan dan
hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Insensif
adalah peristiwa atau stimulasi positif atau negative yang dapat memotivasi
perilaku murid.
b)
Perspektif humanistis, perspektif humanistis menekankan pada kapasitas
murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan utuk memilih nasip mereka dan
kualitas positif (seperti peka terhadap orang lain)
c)
Perspektif kognitif, menurut perspektif kognitif pemikiran murid akan
memandu motivasi mereka. Perspektif kognitif merekomendasikan agar murid diberi
lebih banyak kesempatan dan tanggung jawab untuk mengontrol hasil prestasi
mereka sendiri.
d)
Perspektif sosial, kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif
untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Kebutuhan afiliasi murid
tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan
dekat, ketertarikan mereka dengan orang tua, dan keinginan untuk menjalin
hubungan positif dengan guru. [12]
b. Sifat Motivasi
a. Kekuatan
suatu motif
Suatu motif yang kuat tidak tentu kalu ini akan berlangsung lama,
sedangkan suatu motif yang lama tidak tentu kuat. Sebagai contoh, orang yang
sangat lapar, kalu sudah diberi makan maka motif ini akan lekas hilang. Orang
yang menginginkan baju baru, kalau tidak terus diberi atau membeli maka ini
dapat berlangsung lama.
b. Motif
yang berubah-ubah
Motif kadang-kadang menjadi tujuan-tujuan tetapi kalau sudah tercapai
lalu berubah menjadi jalan ketujuan yang lain. Contoh, motif menjadi mahasiswa
adalah untuk mencapai gelar Sarjana, kemudian gelar ini dapat menjadi motif
jalan untuk mencapai kedudukan tinggi.
c. Motivasi
asli dan motivasi yang didapat
Motivasi yang asli adalah motif-motif yang di tentukan secara
structural, sosial, dan alamiah dalam arti bahwa arti motif itu umum pada
manusia. Dengan lain perkataan ialah dorongan-dorongan yang kita jumpai setiap
hari motif-motif yang alamiah ini dapat menjadi dasar dari motivaton yang
diperlukan dalam belajar.
d. Motif
yang alamiah
Motif-motif yang alamiah ini terdiri atas yang ditentukan secara
structural: pernafasan, denyut jantung, peredaran darah, berfungsinya
metabolism, dan semua perbuatan alat indrera. Dalam hal ini guru tidak dapat
berbuat banyak, dapatnya hanyalah menerima dan mengakui bahwa manusia harus
berbuat demikian.
e. Motif-motif
yang lebih ditimulkan oleh faktor-faktor sosial dan fisik
Ini adalah peniruan (imitasi), perasaan yang ada sebelum sesuatu
terjadi, ketidaksabaran, sentiment, talent, explorasi kebasaan, daya estetis,
keinginan akan status, keinginan akan kebahagiaan, dan motif-motif ini dapat
merubah motivasi individu.
f.
Motif yang negative
Motif ini biasanya dihindari. Motif ini sama pentingnya dengan motif
yang positif dalam menentukan tingkah laku. Yang dimaksud dengan motif negative
antara lain: sakit, dipaksa melalui hal yang tidak menyenangkan, kegagalan dan
lain-lain.[13]
Carol Dweck dan rekan-rekannya mengajukan pertanyaan: apabila bakat,
ambisi, dan IQ tidak dapat memprediksi orang yang akan terus berusaha atau
orang yang akan menyerah, maka faktor apakah yang dapat memprediksi hal
tersebut ? Pendapat umum menyatakan bahwa
eksistensi motivasi bersifat ekonomi, yang artinya seseorang memiliki motivasi,
atau sebaliknya seseorang tidak memiliki motivasi: tidak ada garis tengah
diantara keduanya. Meskipun demikian para peneliti mempertimbangkan penjelasan
lain, mereka mengajukan asumsi bahwa faktor penting yang memprediksikan
kekuatan motivasi seseorang ialah jenis sasaran yang diusahakan orang tersebut.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi pencapaian seseorang adalah tersedianya
kesempatan untuk meraih sesuatu tersebut. [14]
c. Pendekatan teoritis terhadap motivasi
1.
Naluri
Naluri ialah suatu kekuatan biologis bawaan yang mempengaruhi organism
untuk berlaku dengan cara tertentudalam keadaan yang tepat.
2.
Kebutuhan dan dorongan
Selama tahun 1920-an teori naluri digantikan oleh konsep dorongan.
Dorongan ialah suatu keadaan yang timbul sebagai hasildari beberapa kebutuhan
biologis.
3.
Insentif
Selama tahun 1950-an para psikolog mulai meragukanteori
reduksi-dorongan dari motivasi sebagai penjelasan tentang semua jenis perilaku. Kemudian
jelaslah bahwa organism itu tidak didorong untuk beraktivitas oleh dorongan
internal semata-mata, stimulasi eksternal, yang disebut insentif.[15]
Maslow mengklasifikasikan kebutuhan menjadi beberapa tingkat,
dalam hal ini apa bila seseorang ingin memenuhi kebutuhan pada tingkat yang
lebih tinggi, maka seseorang tersebut harus memenuhi kebutuhan pada tingkat
yang paling rendah terlebih dahulu.Hierarki kebutuhan menurut maslow, kebutuhan
individual harus dipuaskan dalam urutan sebagai berikut :
d. Motivasi Belajar
Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang
tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas
belajar. Motivasi dibagi menjadi 2 macam, antara lain :
1.
Motivasi Interinsik
Yang dimaksud dengan motivasi interinsik adalah motif-motif yang
menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam
setiap diri individu itu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
2.
Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi
ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya dorongan
atau perangsang dari luar. [16]
B.
PEMBELAJARAN
Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman
(Learning
is defined as the modikation or strengtheninhg of behavior trough
eksperienching),
menurut pengertian ini belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan
suatu hasil atau tujuan.[17]
Banyak pakar mengemukakan berbagi pengertian belajar, dari berbagai pengertian
dan definisi-definisi yang dikemukakan para pakar dapat dikemukakan adanya
beberapa elemen yang penting yang mencirikan pengertian tentang belajar, yaitu
bahwa :
a.
Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat
mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik. Tetapi juga ada kemungkinan
mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
b.
Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan
atau pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau
kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar, seperti
perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.
c.
Untuk disebut belajar maka perubahan itu harus
relative mantap, harus merupakan akhir dari suatu periode waktu yang cukup panjang.
d.
Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut
berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti perubahan dalam
pengertian, pemecahan suatu masalah/berpikir ketrampilan, kecakapan, ataupun
sikap. [18]
Belajar menyangkut perubahan dalam suatu organisme. Hal ini berarti
bahwa belajar membutuhkan waktu, untuk mengukur belajar kita membandingkan cara
organisme itu berperilaku peda waktu 1 dengan cara organisme itu berperilaku
pada waktu 2 dalam suasana yang serupa. Bila perilaku dalam suasana serupa itu
berbeda untuk waktu itu, kita dapat tarik kesimpulan bahwa telah terjadi
belajar.[19]
a. Makna pembelajaran
Kata pembelajaran berasal dari kata belajar, yang mendapat awalan “pem”
dan akhiran “an” menunjukan bahwa ada unsur dari luar (eksternal) yang bersifat
“intervensi” agar terjadi proses belajar pada diri individu yang belajar.
Pembelajaran dapat dimaknai dan ditelaah secara mikro dan makro. Secara makro
pembelajaran adalah suatu proses yang diupayakan agar peserta didik dapat
mengoptimalkan potensi yang dimiliki baik kognitif maupun sosioemosional secara
efektif dan efisien untuk mencapai perubahan perilaku yang diharapkan. Sedangkan
pembelajaran secara makro terkait dengan dua jalur, yaitu individu yang belajar
dan penataan komponen eksternal agar terjadi proses belajar pada individu yang
belajar.
Hampir semua orang setuju bahwa tujuan pembelajaran adalah upaya
mempengaruhi peserta didik agar terjadi proses belajar, oleh karena itu perlu
diupayakan suatu cara atau metode yang membantu terjadinya proses belajar agar
belajar menjadi efektif, efisien dan terarah pada tujuan yang ditetapkan.
Peristiwa pembelajaran terjadi apabila subjek didika secara aktif berinteraksi
dengan sumber belajar yang diatur oleh guru. Dalam interaksi pembelajaran
tersebut, setiap peserta didik diperlukan sebagai manusia yang bermartabat,
yang minat potensinya perlu diwujudkan secara optimal.[20]
Gegne mendefinisikan pembelajaran sebagai perangkat acara peristiwa
eksternal yang dirancang untuk mendukung terjadinya beberapa proses belajar
yang sifatnya internal. Ada lima asumsi yang mendukung rekomendasi Gegne untuk
merancang pembelajaran:
1)
Pertama, Pembelajaran mesti direncanakan agar memperlancar belajar
sesuai dengan kondisi perorangan.
2)
Kedua, Penyusunan perancangan pembelajaran harus memperhitungakan
jangka pendek dan jangka panjang.
3)
Ketiga, Perancangan hendaknya disusun secara sistematik dan sistemik
yang memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan seseorang.
4)
Keempat, pembelajaran hendaknya diawali dengan analisis kebutuhan,
dilanjutkan perumusan tujuan umum pembelajaran, dan dilanjutkan dengan
langkah-langkah pembelajaran.
5)
Kelima, Bahwa pembelajaran harus dikembangkan berdasarkan pengetahuan
tentang bagaimana orang itu belajar.
b. Metode pembelajaran
Variabel metode pembelajaran diklasifikasikan lebih lanjut menjadi tiga
jenis, yaitu: pertama, strategi pengorganisasian (Organization
Strategy), adalah
metode untuk mengorganisasi isi bidang studi yang telah dipilih untuk
pembelajaran. Kedua,
strategi penyampaian (Delivery
Strategy) adalah
metode untuk menyampaikan pembelajaran kepada siswa dan/atau untuk menerima
serta merespon masukan yang berasal dari siswa. Ketiga, strategi pengelolaan (Management
Strategy) adalah
metode untuk menata interaksi antara si belajar dan variable metode
pembelajaran lainya.[21]
c. Media pembelajaran
Acapkali kaa media pendidikan digunakan secara bergantian dengan
istilah alat bantu atau media komunikasi seperti yang dikemukakan oleh Hamalik
(1986)dimana ia melihat bahwa hubungan komunikasi akan berjalan lancer dengan
hasil yang maksimal apabila menggunakan alat bantu yang dinamakan alat bantu
komunikasi. Sementara itu Gegne dan
Briggs secara implicit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang
secara fisik digunakan untuk menyampaikan isimateri pengajaran.[22]
d. Faktor yang mempengaruhi proses belajar dan pembelajaran
Faktor Internal
1)
Faktor fisiologis
Yaitu faktor yang meliputi antara lain: keadaan
jasmani (normal dan cacat, bentuk kuat atau lemah), yang semuanya akan
mempengaruhi cara merespons terhadap lingkungan. Kondisi fisiologis sangat
berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar dan pembelajaran.
2)
Faktor psikologis
Yaitu merupakan kondisi internal yang memberikan
konstribusi besar untuk terjadinya proses belajarsetiap individu memiliki
karakteristik psikologis yang berbeda. Perbedaan inilah yangmenimbulkan
perbedaan cara merespons terhadap stimulus dari luar, yang akan berdampak pada
hasil belajar yang berbeda.
Faktor Eksternal
Adalah meliputi“segala sesuatu” yang ada diluar diri individu atau
sering disebut dengan lingkungan. [23]
e. Teori-teori pokok belajar
Secara pragmatis, teori belajar dapat dipahami sebagai prinsip umum
atau kumpulan prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas
sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar. Berikut
beberapa teori belajar, dari teori yang lama dan teori yang baru, antara lain :
1)
Connectionism(Koneksionisme)
Teori ini adalah teori yang di
temukan dan dikembangkan oleh Edward L. Thorndike (1874-1949) berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada
tahun 1890-an. Eksperimen Thorndike ini menggunakan hewan-hewan terutama kucing
untuk mengetahui fenomena belajar. Berdasarkan eksperimenya tersebut Thorndike
berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan stimulus dan respons.
2)
Classical Conditioning (Pembiasaan Klasik)
Teori ini berkembang berdasarkan
hasil eksperimen yang dilakukan oleh Ivan Pavlov (1849-1936)seorang ilmuwan
besar Rusia yang berhasil menggondol hadiah Nobel pada tahun 1909. Pada
dasarnya classical conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan
reflex baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya reflex
tersebut (Terrace, 1973).
3)
Operant Conditioning (Pembiasaan Perilaku Respons)
Teori ini merupakan teori belajar
yang berusia paling muda dan masih sangat berpengaruh dikalangan para ahli
psikologi belajar masa kini. Operant adalah sejumlah perilaku atau
respons yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan yang dekat (Reber,
1988). Tidak seperti dalam Responsdent conditioning (yang respons nya didatangkan
oleh stimulus tertentu), respons pada operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh
stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforce.
Reinforce itu
sendiri sesungguhnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya
sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan
stimulus lainnya seperti dalam classical respondent conditioning.
4)
Continguous Conditioning (Pembiasaan Asosiasi Dekat)
Adalah sebuah teori belajar yang
mengasumsikan terjadinya peristiwa belajar berdasarkan kedekatan hubungan
antara stimulus dan respons yang relevan. [24]
Concingous
conditioningsering
disebut sebagai teori belajar istimewa dalam arti paling sederhana dan efisien,
karena didalamnya hanya satu prinsip, yaitu kontinguitas (continguity) yang
berarti kedekatan antar stimulus-respons. Namun demikian, perlu dicatat bahwa
teori belajar contingous conditioningsebagai salah satu cabang mazhab
behaviorisme itu tak dapat diterima begitu saja terutama mengingat
kecenderungannya yang serba mekanis dan otomatos seperti robot dan mesin.
5) Cognitive
theory (Teori Kognitif)
Teori pskologi kognitif adalah
bagian terpenting dari sains kognitif yang telah member konstribusi yang sangat
berarti dalam perkembangan psikologi belajar. Pendekatan psikologi kognitif
lebih menekankan arti penting proses internal dan mental manusia.dalam
pandangan para ahli kognitif, tingkah laku manusia yang tampak tak dapat diukur
dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, yakni: motivasi, kesenjangan,
keyakinan, dan sebagainya. Dalam perspektif psikologis kognitif, belajar pada
asasnya adalah peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral(yang bersifat jasmaniah)
meskipun hal-hal yang bersifat behavioral tampak lebih nyata dalam hamper
setiap peristiwa belajar siswa.
6)
Social Learning Theory (Teory Belajar Sosial)
Teori belajar sosial yang juga
masyhur dengan sebutan teori observational learning, “belajar observasional/dengan
pengamatan”, itu (Pressly & McKormick, 1995:216) adalah sebuah teori
belajar yang relative masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar
lainnya. Dalam hal ini seorang siswa belajar mengubah perilakunya sendiri
melalui penyaksian cara orang atau sekelompok orang mereaksi atau merespons
sebuah stimulus tertentu. [25]
f. Hakikat pembelajaran
Pembelajaran terjemahan dari bahasa inggris “instruction”, terdiri dari dua kegiatan utama
yaitu, belajar (learning), dan mengajar (taching), kemudian disatukan dalam
satu aktivitas, yaitu belajar-mengajar yang selanjutnya popular dengan istilah
pembelajaran (instruction). Dengan demikian untuk mengetahui hakikat
pembelajaran, maka terlebih dahulu harus memahami setiap bagian, yakni belajar
dan mengajar. [26]
Dari beberapa sumber yang membahas mengenai pembelajaran, terdapat
bebrapa kesamaan substansi tentang belajar, yaitu pada dasarnya adalah
perubahan perilaku(pengetahuan, sikap dan ketrampilan) sebagi hasil interaksi
antara siswa dengan lingkungan pembelajaraan.Dari pengertian tersebut memiliki
dua unsur penting yang menjelaskantentang belajar, yaitu perubahan perilaku dan
hasil interaksi. Dengan dua indicator tersebut dapt disimpulkan bahwa seseorang
yang telah belajar pasti harus ditandai adanya perubahan perilaku, jika tidak
maka belum terjadi belajar selanjutnya bahwa perubahan yang terjadi itu , harus
melalui suatu proses, yaitu interaksi yang direncanakan antara siswa dengan
lingkungan pembelajaran untuk terjadinya kegiatan pembelajaran, jika tiadak
maka perubahan tersebut bukan hasil belajar. Oleh karena itu, perubahan
perilaku pada siswa dapat dibedakan dari dua segi : pertama perubahan perilaku
sebagai hasil pembelajaran, dan kedua perubahan perilaku yang bukan hasil dari
pembelajaran. Adapun yang harus dilakuakan oleh setiap tenaga kependidikan,
bahwa perubahan perilaku pada setiap peserta didik/siswa tentu saja adalah
perubahan perilaku hasil pembelajaran.
Prof.Dr. Chaeder Alwasilah, M.A. memberikan batasan terhadap ketiga
istilah belajar, mengajar dan pengajaran sebagai berikut :
a)
Belajar (Learning) adalah refleksi system kepribadian siswa yang
menunjukan perilaku yang terkait dengan tugas yang diberikan.
b)
Mengajar (Teaching) adalah refleksi system kepribadian sang guru yang
bertindak secara professional.
c)
Pembelajaran (Instruction) adalah system sosial tempat berlangsungnya
mengajar dan belajar.
Dari masing-masing batasan
tersebut diatas, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa antara kegiatan
belajar dan mengajar keduanya menuntut aktivitas yang sama, yaitu refleksi
untuk melaksanakan tugas dan dan kewajiban sesuai dengan fungsinya
masing-masing (siswa dan guru). Hubungan aktivitas secara interaktif anatara
siswa dengan guru dan lingkungan pembelajaran lainnya untuk menuju ke arah
perubahan perilaku yang diharapkan, dan itulah hakikat pembelajaran (Instruction). Dari definisi tersebut secara
subtantif memiliki makna bahwa pembelajaran intinya adalah “perubahan”, dan
perubahan tersebut diperoleh melalui aktivitas merespon terhadap lingkungan
pembelajaran [27]
Mengapa belajar diperlukan aktivitas? Sebabpada prinsipnya belajar
adalah berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan.
Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas
merupakan prinsip atau asas yang sangat penting di dalam interaksi
belajar-mengajar. Sebagai rasionalitasnya hal ini juga mendapatkan pengakuan
dari berbagai ahli pendidikan.
Frobel mengatakan bahwa anak itu harus bekerja sendiri. Untuk
memberikan motivasi, maka dipopulerkan
suatu semboyan “berpikir dan berbuat”. Dalam dinamika kehidupan manusia,
berpikir dan berbuatsebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Begitu
juga dalam belajar sudah barang tentu tidak mungkin meninggalkan dua kegiatan
itu, berpikir dan berbuat.
Montessori juga menegaskan bahwa anak-anak memiliki tenaga-tenaga untuk
berkembang sendiri. Pendidik akan berperan sebagai pembimbing dan mengamati
bagaimana perkembangan anak-anak didiknya. Pernyataan Montessori ini memberikan
petunjuk bahwa yang lebih banyak melakukan aktivitas didalam pembentukan diri
adalah anak itu sendiri, sedang pendidik memberikan bimbingan dan merencanakan
segala kegiatan yang akan diperbuat oleh anak didik.
Dalam kegiatan belajar ini, Rousseau memberikan penjelasan bahwa segala
pengetahuan itu harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri,
penyelidikan sendiri, baik secara rohani maupun teknis. Ilustrasi inidiambil
dalam kasus dalam lingkup pelajaran ilmu bumi. Ini menunjukan bahwa setiap
orang yang belajar harus aktif sendiri.
Dengan beberapa pandangan dari berbagai ahli tersebut diatas, jelas
bahwa kegiatan belajar, subjek didik atau siswa harus aktif berbuat. Dengan
kata lain, bahwa dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas. Tanpa
aktivitas, proses belajar tidak mungkin berlangsung dengan baik. [28]
Upaya pembelajaran pada dasarnya berfungsi sebagai perangsan
(stimulus)eksternal untuk membantu seseorang belajar, mengorganisasi dan
mengintegrasikan sejumlah pengalaman baru kedalam skema secara bermakna,
sehingga terbentuk struktur kognitif yang dapat digunakan sebagaipengait
informasi pada kegiatan belajarhal ini berarti variable internal yang berupa
karakteristik peserta didik yang berupa locu of control dalam dalam belajar merupakan
unsure penting yang berkaitan dengan hasil belajar. [29]
Karena tujuan pembelajaran adalah mempengaruhipeserta didik agar
terjadi proses atau perbuatan belajar, maka pemahaman akan teori belajar
menjadi penting. Teori belajar menaruh perhatian pada hubungan diantara
veriabel-veriabel yang menentukan hasil belajar dan menaruh perhatian pada
bagaimana seseorang belajar. Sedangkan teori pembelajaran sebaliknya menaruh
perhatian pada pada bagaimana seseorang
mempengaruhi orang lain agar terjadi perbuatan belajar. Dengan kata lain,
teori pembelajaran berurusan dengan upaya mengontrol variable-variabel yang
dispesifikasi dalam teori belajar agar dapat memudahkan belajar. Teori
pembelajaran mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran dengan
proses-proses psikologis dalam diri si belajar, sedangkan teori belajar
mengungkapkan hubungan antar fenomena-fenomena yang ada dalam diri si belajar. [30]
g. Prinsip-prinsip pembelajaran
Ada beberapa prinsip umum yang harus menjadi inspirasi bagi pihak-pihak
yang terkait dengan pembelajaran (siswa dan guru), yaitu:
a.
Prinsip umum pembelajaran
1)
Bahwa belajar menghasilkan perubahan perilaku peserta didik yang
relative permanen.
2)
Peserta didik memiliki potensi, gandrung dan kemempuan yang merupakan
benih kodrati untuk ditumbuh kembangkan.
3)
Perubahan atau pencapaian kualitas ideal itu tidak alami linearsejalan
proses kehidupan.
b.
Prinsip khusus pembelajaran
1)
Prinsip perhatian dan motivasi
Perhatian
dalam proses pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting sebagai langkah
awal dalam memicu aktivitas-aktivitas belajar. Sedeangkan motivasi merupakan
upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan dorongan untuk mewujudkan perilaku
belajar dalam proses pembelajaran dalam pencapaian tujuan dan hasil belajar.
2)
Prinsip keaktifan belajar pada hakikatnya adalah proses aktif dimana
seseorang melakukan kegiatan secara sadar dan untuk mengubah suatu perilaku,
terjadi kegiatan merespons terhadap setiap pembelajaran. [31]
c.
Prinsip keterlibatan langsung/berpengalaman
Prinsip ini berhubungan dengan
prinsip aktivitas, bahwa setiap individu harus terlibat secara langsung untuk mengalaminya. Pendekatan pembelajaran
yang mampu melibatkan siswa secara langsung akan menghasilkan pembelajaran
lebih efektif sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.terkait dengan konsep
aktivitas, setiap kegiatan belajar harus melibatkan diri (setiap individu)
terjun mengalami.
d.
Prinsip pengulanganteori yang dapat dijadikan sebagai petunjuk
pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar antara lain dapat dicermati dari
dalil-dalil belajar yang dikemukakan oleh Edward L. Thorndike (1974-1979).
Kesimpulan penelitianya telah memunculkan tiga dalil belajar, yaitu: “Law
of effect, Law of exercise, and Law of readinss”.teori lain yang danggap memiliki kaitan erat dengan
prinsip pengulangan adalah yang dikemukakan oleh Psikologi Daya. Menurut teori
Daya, manusia memiliki sejumlah daya seperti mengamati, menanggapi, mengingat,
menghayal, merasakan, berfikir, dan sebagainya. Oleh karena itu,menurut teori ini,
belajar adalah melebihi daya-daya dengan pengulangan, agar setiap daya yang
dimiliki manusia dapat terarah sehingga menjadi lebih peka dan berkembang.
e.
Prinsip tantangan
Dalam
situasi belajar, siswa menghadapi suatu tujuan yang harus dicapai. Untuk mencapai
tujuan tersebut siswa dihadapkan kepada sejumlah hambatan/tantangan, yaitu
mempelajari materi/bahan belajar.
f.
Prinsip balikan dan penguatan
Penguatan
positif maupun negative dapat memperkut belajar. Balikan yang segera diperoleh
siswa setelah belajar melalui berbagai metode, akan membuat siswa terdorong
untuk belajar lebih giat dan bersemangat.
g.
Prinsip perbedaan individual
Perbedaan
individual dalam belajar, yaitu proses belajar yang terjadi pada setiap
indivedu berbeda-beda, baik secara fisik maupun psikis. Oleh karena itu, dalam
proses pembelajaran mengandung implikasi bahwa setiap siswa harus dibantu untuk
memahami kekuatan dan kelemahan dirinya.[32]
Prosedur pengajaran dan
pembelajaran menurut Al-Qabisi terpengaruh oleh zamannya, dimana masyarakat
cukup berpegang teguh pada ajaran agama. Apa yang dimaksud disini adalah
terkait dengan prosedur, langkah atau rancangan pengajaran harian guru dalam
kelas. Jadwal waktu atau rutinitas harian pengajaran dan pembelajaran yang
dilakukan oleh guru pada umumnya tidak banyak bedanya setiap hari.[33]
C.
PENGAJARAN
a. Tafsiran tentang pengajaran
Pandangan tentang istilah pengajaran terus menerus berkembang dan
mengalami kemajuan. Tingkat kemajuan itu dapat kita lihat dalam uraian sebagai
berikut.
1)
Pengajaran maksudnya sama dengan
kegiatan mengajar
Kegiatan itu dilakukan oleh guru dalam menyampaikan
pengetahuan kepada siswa. Kegiatan guru adalah yang paling aktif, paling
menonjol, dan paling menentukan. Pengejaran sama artinya dengan perbuatan
mengajar.
2)
Pengajaran adalah interaksi belajar dan
mengajar
Pengajaran berlangsung sebagai
suatu proses saling mempengaruhi antara guru dan siswa. Diantara keduanya
terdapat hubungan atau komunikasi interaksi. Guru mengajar di satu pihak,
sedangkan siswa belajar di lain pihak. Keduanya menunjukan aktivitas yang
seimbang, hanya berbeda perannya saja. Jadi dapat dikatakan bahwa pengajaran
merupakan suatu pola yang di dalamnya tersusun suatu prosedur yang
direncanakan.
3)
Pengajaran sebagai suatu system
Pengertian pengajaran yang sesungguhnya
lebih luas daripada hanya sebagai suatu proses atau prosedur belaka. Pengajaran adalah suatu system yang luas,
yang mengandung banyak aspek, salah satunya yaitu :
a)
profesi guru
b)
program pendidikan atau kurikulum sekolah
c)
perencanaan pengajaran
d)
bimbingan disekolah.
4)
Pengajaran identik dengan pendidikan
Proses pengajaran adalah proses pendidikan. Setiap
kegiatan pengajaran adalah untuk mencapai tujuan pedidikan.
b. Pengajaran di Sekolah
Pengajaran disekolah semakin berkembang. Dimulai dari pengajaran
tradisional, yang memiliki cirri-ciri tradisional konservatif berkembang menuju
ke sistem pengajaran modern. Yang memiliki cirri-ciri yang sesuai dengan
perkembangan zaman. [34]
Teori pendidikan dan pengajaran
yang harus diwujudkan adalah teori lokalisasi pendidikan, artinya seluruh
kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran perlu diterima dan diadaptasikan
dengan kultur local, sehingga masyarakat menerima dan menikmati kemajuan
fasilitas pendidikan yang modern dan pengembangan kurikulum pendidikan. [35]
Perkembangan sekolah meliputi tiga tahap perkembangan, yakni sekolah
tradisional, sekolah progresif, dan sekolah masyarakat (modern). Dasar
perkembangan ini ialah dilihat dari segi-segi historis, orientasi pengajaran,
tujuan pengajaran, kurikulum yang dipergunakan, proses belajar siswa, disiplin
kelas, metode mengajar, hubungan sekolah dan masyarakat, dan komunikasi
keperagaan yang dipergunakan.
c. Pengajaran lama dan pengajaran baru
Sejak para ahli menemukan konsep dan gagasan baru di dalam pengajaran,
maka sejak itu pula terjadi banyak perubahan pandangan dalam dunia pendidikan
dan pengajaranumumnya perubahan ini menunjukan sejak abad ke dua puluh. Yang
dengan tegas memberikan kritiknya terhadap pengajaran tradisional.
a)
Pengajaran Lama
Kelemahan pengajaran tradisional
antara lain sebagai berikut:
1)
Penggunaan metode mendengarkan dan resitasi, yang dianggap sebagai
pemborosan.
2)
Tugas-tugas konvensional yang diberikan tidak menentu dan pengajaran
(metode belajar) yang tidak adekuat.
3)
Pengajaran terpusat pada kata-kata dan kurang memperhatikan pada arti
dan makna.
4)
Gagal menggunakan alat-alat audio visual dan alat-alat belajar yang
konkrit.
5)
Kurang sekali melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam kerjasama kelompok,
dan lain sebagainya.
b)
Pengajaran Baru
Sejak pertengahan abad ke dua
puluh maka banyak dilakukan perbaikan-perbaikan atas kelemahan-kelemahan
tersebut. Perubahan-perubahan yang timbul ialah:
1)
Digunakannya prinsip-prinsip mengajar yang baru
2)
Faktor siswa yang dinilai sebagai unsure yang penting
3)
Konsep baru dalam disiplin, dan lain sebagainya. [36]
BAB II
PEMBAHASAN
A.
MOTIVASI
Motivasi merupakan dorongan dari dalam diri seseorang maupun dari luar
diri seseorang yang mendorong dirinya untuk berbuat sesuatu agar lebih
semangat.
Motivasi dipandang dari arti
katanya, motivasi (motivation) berarti hal yang menimbulkan dorongan atau
keadaan yang menimbulkan dorongan. Motivasi dapat pula dikatakan sebagai energy
unttuk membangkitkan dorongan dalam diri (drive arousal). [37]
Pada dasarnya dalam buku psikologi pendidikan yang di tulis oleh Drs.
Ngalim Purwanto,MP. Mengungkapkan bahwa motif dam motivasi itu bebeda. Dikatakan
bahwa “motif” menunjukan suatu dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang
yang menyebabkan orang tersebut mau bertindak melakukan sesuatu. Sedangkan
“motivasi” adalah pendorongan, suatu
usaha yang didasari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak
hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan
tertentu.
Menurut kebanyakan definisi motivasi mengandung tiga komponen pokok
yaitu menggerakkan, mengarahkan dan menopang kehidupan manusia. Mengarahkan
berarti menimbulkan kekuatan pada
individu, motivasi juga mengarahkan ataumenyalurkan tingkah laku,
motivasi juga untuk menjaga dan menopang tingkah laku manusia.
Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan motivasi adalah untuk
menggerakakn atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauanya untuk
melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan
tertentu.
B.
PEMBELAJARAN
Pembelajaran dapat diakatak sebagai proses dari belajar dan mengajar
yang dilakukan oleh murid dan guru, pembelajaran juga dapat dikatakan sebagai
alat interaksi antara guru dan siswanya.Gegne mendefinisikan pembelajaran
sebagai perangkat acara peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung
terjadinya beberapa proses belajar yang sifatnya internal.
Secara pragmatis, teori belajar dapat dipahami sebagai prinsip umum
atau kumpulan prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas
sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar.,
teori-teori belajar meliputi: Connectionism (Koneksionisme), Classical
Conditioning
(Pembiasaan Klasik), Operant Conditioning (Pembiasaan Perilaku Respons), Continguous
Conditioning
(Pembiasaan Asosiasi Dekat), Cognitive theory (Teori Kognitif), dan Social
Learning Theory (Teory Belajar Sosial).
Dari beberapa sumber yang membahas mengenai pembelajaran, terdapat
bebrapa kesamaan substansi tentang belajar, yaitu pada dasarnya adalah
perubahan perilaku (pengetahuan, sikap dan ketrampilan) sebagi hasil interaksi
antara siswa dengan lingkungan pembelajaraan.
Dari pengertian tersebut memiliki dua unsur penting yang menjelaskan
tentang belajar, yaitu perubahan perilaku dan hasil interaksi. Dengan dua
indicator tersebut dapt disimpulkan bahwa seseorang yang telah belajar pasti
harus ditandai adanya perubahan perilaku, jika tidak maka belum terjadi belajar
selanjutnya bahwa perubahan yang terjadi itu , harus melalui suatu proses,
yaitu interaksi yang direncanakan antara siswa dengan lingkungan pembelajaran
untuk terjadinya kegiatan pembelajaran, jika tiadak maka perubahan tersebut
bukan hasil belajar. Oleh karena itu, perubahan perilaku pada siswa dapat
dibedakan dari dua segi : pertama perubahan perilaku sebagai hasil
pembelajaran, dan kedua perubahan perilaku yang bukan hasil dari pembelajaran.
Prof.Dr. Chaeder Alwasilah, M.A. memberikan batasan terhadap ketiga
istilah belajar, mengajar dan pengajaran sebagai berikut :
d)
Belajar (Learning) adalah refleksi system kepribadian siswa yang
menunjukan perilaku yang terkait dengan tugas yang diberikan.
e)
Mengajar (Teaching) adalah refleksi system kepribadian sang guru yang
bertindak secara professional.
f)
Pembelajaran (Instruction) adalah system sosial tempat berlangsungnya
mengajar dan belajar.
Dari masing-masing batasan tersebut diatas, secara sederhana dapat
disimpulkan bahwa antara kegiatan belajar dan mengajar keduanya menuntut
aktivitas yang sama, yaitu refleksi untuk melaksanakan tugas dan dan kewajiban
sesuai dengan fungsinya masing-masing (siswa dan guru). Hubungan aktivitas
secara interaktif anatara siswa dengan guru dan lingkungan pembelajaran lainnya
untuk menuju ke arah perubahan perilaku yang diharapkan, dan itulah hakikat
pembelajaran (Instruction).
Tujuan pembelajaran adalah mempengaruhi peserta didik agar terjadi
proses atau perbuatan belajar, maka pemahaman akan teori belajar menjadi
penting. Teori belajar menaruh perhatian pada hubungan diantara
veriabel-veriabel yang menentukan hasil belajar dan menaruh perhatian pada
bagaimana seseorang belajar. Sedangkan teori pembelajaran sebaliknya menaruh
perhatian pada pada bagaimana seseorang
mempengaruhi orang lain agar terjadi perbuatan belajar. Dengan kata
lain, teori pembelajaran berurusan dengan upaya mengontrol variable-variabel
yang dispesifikasi dalam teori belajar agar dapat memudahkan belajar. Teori
pembelajaran mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran dengan
proses-proses psikologis dalam diri si belajar, sedangkan teori belajar
mengungkapkan hubungan antar fenomena-fenomena yang ada dalam diri si belajar.
C.
PENGAJARAN
Pengajaran dapat pula disebut dengan mengajar, atau dapat dikatakan
keduanya adalah sama, karena pada hakikatnya pengajaran itu berasal dari kata
ajar, yang mendaptat imbuhan awalan “peng” dan akhiran “an”, sehingga menjadi
pengajaran.
Pengajaran adalah suatu system, artinya suatu keseluruhan yang terdiri
atas komponen-komponen yang berinterelasi dan berinteraksi antara satu dengan
yang lainnya, dan dengan keseluruhan itu sendiri untuk mencapai tujuan
pengajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Adapun komponen komponen tersebut meliputi:
a)
Tujuan pendidikan dan pengajaran
b)
Pesrta didik atau siswa
c)
Tenaga kependidikan khususnya guru
d)
perencanaan pengajaran sebagai suatu segtmen kurikulum
Proses pengajaran ditandai dengan adanya interaksi antar komponen misalnya
komponen peserta didik berinteraksi dengan komponen guru, demikian seterusnya,
semua komponen dalam system pengajaran saling berhubungan dan saling
mempengaruhi, untuk mencapai tujuan pembelajaran.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari uraian pendahuluan, pandangan para pakar serta pembahasan diatas,
dapt kami tarik kesimpulan bahwa sanya motivasi, pembelajaran dan pengajaran
itu saling keterkaitan misalnya pembelajaran dan pengajaran tanpa adanya
motivasi tidak akan berjalan baik karena segala sesuatu yang akan dilakukan itu
memerlukan sebuah dorongan, agar rasa kinginan kita itu merasa terpenuhi dengan
baik.
Motivasi dipandang dari arti katanya, motivasi (motivation) berarti hal yang menimbulkan
dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan. Motivasi dapat pula dikatakan
sebagai energy unttuk membangkitkan dorongan dalam diri (drive
arousal).
Kata pembelajaran berasal dari kata belajar, yang mendapat awalan “pem”
dan akhiran “an” menunjukan bahwa ada unsur dari luar (eksternal) yang bersifat
“intervensi” agar terjadi proses belajar pada diri individu yang belajar.
Pembelajaran dapat dimaknai dan ditelaah secara mikro dan makro. Secara makro
pembelajaran adalah suatu proses yang diupayakan agar peserta didik dapat
mengoptimalkan potensi yang dimiliki baik kognitif maupun sosioemosional secara
efektif dan efisien untuk mencapai perubahan perilaku yang diharapkan.
Sedangkan pembelajaran secara makro terkait dengan dua jalur, yaitu individu
yang belajar dan penataan komponen eksternal agar terjadi proses belajar pada
individu yang belajar.
Pandangan tentang istilah pengajaran terus menerus berkembang dan
mengalami kemajuan. Tingkat kemajuan itu dapat kita lihat dalam uraian sebagai
berikut.
1)
Pengajaran maksudnya sama dengan kegiatan mengajar
2)
Pengajaran adalah interaksi belajar dan mengajar
3)
Pengajaran sebagai suatu system
4)
Pengajaran identik dengan pendidikan
DAFTAR RUJUKAN
1.
Abdul Wahib, Mustaqim, 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
2.
Abd. Rachman Assegaft. Aliran Pemikiran Pendidikan Islam:
Hadharah Keilmuan Tokoh Klasik Sampai Modern. Jakarta: Rajawali Pers.
3.
Amirullah, Haris Budiyono. 2004.Pengantar Manajemen. Yogyakarta: Graha Ilmu.
4.
Azhar Arsyad.2003 Media Pembelajaran. Jakarta: PT Grafindo Persada.
5.
Beni Ahmad Saebani, Hasan Basri. 2010. Ilmu Pendidikan
Islam Jilid II. Bandung :Pustaka Setia.
6.
Carol Tavris, Carol Wade.2007..Psikologi. Jakarta: Erlangga.
7.
Dimyati, Mujiono.2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
8.
Ernest R. Hilgard, Richard C. Atkinson, Rita L. Atkinson.Edise
kedelapan.Pengantar Psikologi. Jakarta: Erlangga.
9.
Hamzah B. Uno.2006. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
10.
Heni Mularsih, Karwono. 2012. Belajar dan
Pembelajaran Serta Pemanfaatan Sumber Belajar. Jakarta: Rajawali
Pers.
11.
John W. Santrock. 2007.Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta: Kenncana.
12.
Muhibbin Syah,Psikologi Belajar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
13.
Ngalim Purwanto.2007.Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
14.
Oemar Hamalik. 2011.Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
15.
Rusman. 2013. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
16.
Ratna Wilis Dahar. 2006. Teori-Teori Belajar dan
Pembelajaran.
Jakarta: Erlangga.
17.
Sardiman. 2011.Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
18.
Sobry Sutikno. 2014. Pemimpin dan Kepemimpinan. Lombok: Holistica.
19.
Syaiful Bahri Djamarah. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
20.
Tim Pengembang MKPD. 2012.
Kurikulum & Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
[3]Heni Mularsih, Karwono, Belajar
dan Pembelajaran Serta Pemanfaatan Sumber Belajar. Jakarta: Rajawali Pers. 2012.
h. 13-23
[5]Ibid.h. 23
[11]Ibid. h. 83
[15]Ernest R. Hilgard, Richard C. Atkinson, Rita L. Atkinson, Pengantar Psikologi. Jakarta: Erlangga. Edise kedelapan. h. 6-9
[20]Heni Mularsih, Karwono, Belajar
dan Pembelajaran Serta Pemanfaatan Sumber Belajar. Jakarta: Rajawali Pers. 2012.
h.19-21
[23]Ibid. 46-50
[25]Ibid. h. 101-107
[27]Ibid. h. 180-182
[29]Heni Mularsih, Karwono, Belajar
dan Pembelajaran Serta Pemanfaatan Sumber Belajar. Jakarta: Rajawali Pers. 2012.
h. 22
[30]Ibid
[32]Ibid.h. 185-187
[33]Abd. Rachman Assegaft. Aliran
Pemikiran Pendidikan Islam: Hadharah Keilmuan Tokoh Klasik Sampai Modern. Jakarta: Rajawali Pers. 2013.h. 71-72
[35]Beni Ahmad Saebani, Hasan Basri, Ilmu
Pendidikan Islam Jilid II. Bandung: Pustaka Setia.2010. h.
38
[36]Ibid. h. 55-58
perspektif Ibu Handayani itu tidak jelas....dan kayax tidak nyambung dengan perspektif psikologi di ruangan ini. Jadi kayax, Ibu Handayani salah kamar deh. ini ruangan akademik. perspektif cerita ibu itu namanya perspektif klenik. karena ibu bawa nama Tuhan, jd hanya ibu dan Tuhan yang bisa pervikasi ()
BalasHapus